The Wonders of My Journey 2022


Hai, bertemu lagi.
Kali ini cukup lama, ya. Waktu berjalan cepat sekali.
Terima kasih sudah singgah, seperti judul tulisan terakhir kali sebelum "The Wonders of My Journey 2022" yang sedang dibaca, hehe. 

Memulai kata pertama rasanya berat, asli. Rasanya sudah gak punya kata-kata lagi untuk disampaikan, padahal, banyak banget yang ingin diceritakan. 

"The Wonders of My Journey 2022" judul yang udah ngegambarin gimana luar biasanya tahun kemarin untuk aku. Jujur, untuk setiap tahun yang dilewati, aku jarang banget naruh ekspektasi tinggi. Bukan berarti gak punya target, punya, tapi lebih menyerahkan dengan kemampuan diri aja dilapangan gimana nantinya. Karena rasanya dengan melihat hal-hal yang gak pernah disangka-sangka sebelumnya disetiap hari, i feel it's amazing to me. 

Tahun kemarin, fase dihajar habis-habisan dengan target yang aku punya. Awal tahun disambut dengan seminar proposal pembuka tugas akhir sebagai mahasiswa, senang banget dong, alhamdulilah, hari itu rasanya dunia cuma milik sendiri, padahal proposal di revisi keseluruhan mulai dari variabel, objek, dan metode dirubah jadi seperti proposal penelitian yang berbeda wkwk pusing gak tuh.

6 bulan awal tahun 2022 diisi dengan kesibukan penelitian, dan organisasi. Kebayang gak gimana hacticnya setiap hari harus bagi dua pilihan yang sama-sama diprioritaskan. Walaupun, dengan dua pilihan tetap ada satu yang harus dikorbankan. Itu fakta.

Ingat banget gimana sulitnya 6 bulan awal tahun lalu membagi waktu, bagi waktu untuk ngerjain skripsi, untuk organisasi yang basic nya gak bisa diam ditempat bahkan diam pun juga sebenarnya sedang bekerja. Bagi waktu untuk main sama teman, karena rasanya ketemu teman adalah charger diri, waktu untuk bisa makan dengan tepat waktu, sehari bisa sekali aja udah syukur. Bagi waktu untuk tidur dengan baik, keseringan ketiduran gak sadar bangun-bangun laptop tetap hidup diatas kepala, dan bagi waktu untuk istirahat diri sendiri dengan gak aktifin data seharian, gak chat/telfon siapapun, dan gak ngelakuin apa-apa. Kalau dibayangin lagi sekarang, kayaknya aku gak bisa untuk setahan dulu. Gak nyangka juga gimana dulu bisa tetap hidup wkwk.

6 bulan akhir alhamdulilah diisi dengan pencapaian hasil yang diusahain di bulan-bulan sebelumnya. Lulus dapat gelar yang diusahakan dengan waktu yang sudah sampai masanya. Ya, gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) tepat 1 Juli 2022 masyaaAllah alhamdulilah. Sebenarnya gak nyangka bisa. Karena gak bisa bohong juga, emang rasanya sibuk banget. Problem 2 tahun belakangan ini sama, slow respon, tapi lebih parah di tahun ini. Aku akui, maaf. Tapi memang saat itu tidak bisa terhandle, walaupun di status tetap online, dan story berjalan setiap hari, begitu cara aku untuk tetap waras. Akhirnya, keterusan deh sampai sekarang. Sampai ada teman yang nanya, "Ul, kapan ngerjain (skripsi) nya, kok bisa?" pertanyaan itu timbul karena mungkin intensitas ketemu setiap hari dari pagi sampai sore itu ada dan selalu bareng-bareng, padahal mungkin gak tau aja, hampir mau satu bulan paska Idul Fitri, waktu tidur 1 hari kayaknya kurang dari 4 jam. Benar-benar diporsir habis, "selagi fokus", alasannya.

Kalau dipikir lagi, gila banget dulu. Pengen marah, sih. Kasihan lihat diri sendiri. Akibat dari porsiran waktu yang dibuat, sekarang kalau gak sengaja lihat postingan tentang skripsi malah auto di unfollow dan di skip wkwkwk trauma, kah?  

Paska clear dari fase skripsweet-an, alhamdulillah Allah bantu mudahkan prosesnya bisa dapat kuota pelaksanaan wisuda di 3 bulan setelahnya. Ingat banget, proses administrasi yang buat istighfar setiap hari, tapi tetap ke kampus juga, dikerjain, dijalanin, ditungguin, disabarin, disenyumin, akhirnya rampung juga. Gitu emang ya kita. Biasa tu. 

Sampai akhirnya ngerasain titik terendah setelah selesai celebrasi, ngerasa, "Aku mau kemana ni? Aku bisa apa ya? Layak gak ya aku di percaya? Kayaknya banyak banget deh orang yang lebih bervalue, lah aku? dan pertanyaan lainnya".

2 Minggu berkelahi dengan diri sendiri, 2 Minggu kerjaannya nangis setiap hari, lihat postingan yang melow dikit, nangis. Lihat pencapaian orang lain, nangis. Gak sengaja lihat diri sendiri di cermin, nangis wkwkwk sekarang aku lagi ngetik ini juga mau nangis, cuman rasanya lucu aja jadinya, eh malah jadi ketawa ahahah asli serius ni. 

Tapi gimana ya, kalau gak coba kita gak tau hasil. Itu benar. Terlalu banyak yang difikirkan dengan kemungkinan terburuk ketika mencoba rasanya lebih nambah pressure, akhirnya kita makin gak percaya diri, makin banyak aksi-aksi kebaikan yang ditunda. Tapi coba lihat gimana kalau misal yang terjadi malah sebaliknya, apa gak auto semangat tuh ngejemput harapan baru. Emang benar, pengaruh mindset kuat banget. Banyak-banyak berfikir yang positif, ya. Sayang kita masih mudah.

Ohiya, yang gak lupa aku ceritain, rasa syukur karena diberi wadah untuk belajar dan menyalurkan apa yang sebenarnya jadi keinginan. Kemarin dikasih kesempatan untuk mengabdi bareng-bareng teman BEM UNRI di daerah asal, kabupaten Indragiri Hilir, Sungai Bela namanya. Pengalaman penutupan sebagai mahasiswa yang paling berkesan rasanya. Ingin kesana lagi, tapi nanti lah ya, mudahan saat bisa kesana, bisa lebih membawa kebermanfaatan untuk warga sekitar.

Alhamdulilah juga akhir tahun kemarin dikasih tempat kerja yang secara tidak langsung Allah jawab keinginan diri untuk mengeksplor kota-kota yang belum pernah dikunjungi. Alhamdulilah 'alaa kulli hal. Belum bisa cerita banyak, rasanya banyak hal yang harus aku benahi dulu, niat dan ikhlas PR besarnya biar bisa sampai ke tahap menikmati lalu mencintai.

Huh, makin kesini makin takjub rasanya melihat cara Allah mengabulkan do'a-do'a yang sudah kita langitkan. Sebenarnya untuk segalanya, sambil terus di upayakan dan didoakan, kita hanya tinggal menunggu waktu. Sabar, ya.

Banyak banget kan ya. Sampai gak sadar sudah nulis sepanjang ini. Tapi memang setiap tahun, setiap langkah hidup yang dijalani banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Pelajaran tementang niat dan tekat yang bisa dibuktikan, tentang keinginan yang diwujudkan, penempatan prioritas pilihan yang lagi dihadapi, tekanan tanggung jawab diberbagai penjuru, romansa persahabatan, ngeikhlasin fase people come and go, give a much love, ngontrol egoisme diri, bangkit dari titik terendah, dan proses pengenalan diri lebih jauh lagi. I got'it, dengan bantuan Allah.

Rasanya pengen nangis kalau lihat cerita tahun lalu. Memang gak semuanya happy, but, semuanya berarti. Kalau mau dibanding-bandingkan dengan apa yang orang dapat dengan apa yang kita punya, kita gak bakal puas. Kita bakal merasa kurang terus, seolah semesta gak adil, padahal kita sudah paham, untuk setiap orang punya porsinya masing-masing kan ya. Kita aja kalaulah menghadapi orang lain, tentu perlakuan kita sesuai dengan apa yang sedang orang itu perlukan/butuhkan. Adil bukan berarti sama. 

Kadang kita terlalu suka melihat nikmat orang lain, sampai lupa nikmat yang kita punya. Akhirnya gak nikmatin hidup. Sulit happy. Sayang, kan. 
Mudahan kita senantiasa menjadi orang yang terus Allah kasih nikmat tanpa batas, menjadi orang yang pandai bersyukur, menjadi orang yang mampu melihat kebaikan di setiap kejadian. Aamiin ya Allah.

Selamat menikmati perjalanan 2023
Tidak ada do'a yang sia-sia
Libatkan Allah dalam segala sesuatu, insyaallah semua bakal baik-baik aja.
Thankyou sudah baca "The wonders of my journey 2022" 
See u!

Love, Ulfa.

Komentar