Kisah Bersama Ibu, Tentang Kado Perpisahan Lalu
Saat hari perpisahan SMA di sekolah. Dua hari sebelum hari acara, pihak sekolah membuat pernyataan untuk murid agar menyiapkan kado dan bunga untuk orangtua yang akan hadir di acara perpisahan nanti.
Saat itu, pengeluaranku sudah cukup menggunung. Pengeluaran persiapan kuliah, daftar jalur ini jalur itu, beli bahan baju dan upah jahit baju perpisahan, lalu ditambah uang make up yang totalnya gak sedikit.
Dan, saat itu aku pribadi emang gada uang. Karna uangku juga kupakai untuk bayar yang kiranya bisa ku bayar tanpa tambahan orangtua lagi.
Dua hari bingung tentang apa yang akan kuberi sebagai kado. Beberapa teman menyarankan untuk meminta uang (lagi) kepada orangtua untuk bisa beli kado. Beberapa lagi menginisiatif untuk memberikan barang nya kepada orangtua mereka. Bahkan ada juga beberapa yang orangtuanya tau, dan mereka menjadikan barang orangtua mereka sebagai isi dari kado, seperti kado hanya formalitas saja "Yang penting ada kado"
Anehnya aku tidak pernah terlintas sedikitpun untuk mau seperti apa yang mereka bilang. Si keras kepala ini tidak bisa menerima. Padahal saran yang cukup bagus saat itu, menggiurkan untuk dilakukan
Tapi, kemarin itu aku mikirnya kenapa harus dari uang orangtua yang mau ku jadikan kado untuk beliau. Kenapa gak uang aku sendiri (tabungan). Kenapa harus barang kepunyaan diri untuk orangtua, sedang beliau yang membeli barang itu. Lalu kenapa harus dianggap sepele, dijadikan hanya formalitas semata.
Bukankah setiap masa bersama orangtua adalah momen. Apalagi saat itu masa orangtua ngelihat kita sudah benar-benar dewasa. Masa orangtua yang udah ngebayangin anaknya bakal jauh, entah untuk pendidikan, kerja atau berkeluarga. Masa orangtua yang bangga lihat kita sudah bisa sampai di puncak SMA. Momen yang cuman sekali.
Aku pasrah. Aku gatau bisa kasih apa sama orangtua besok. Kebetulan yang hadir adalah Mama. Sampainya hari H perpisahan ditanganku sudah ada sebuah kotak kecil yang berbungkus kertas kado sama seperti kawan-kawan yang lain. Ku lihat kado mereka besar, berisi dan sepertinya berharga. Sedang punyaku mungkin yang takpernah kawan-kawan duga dan terfikirkan
"Wah, beruntung orangtua mereka punya mereka," begitu gumamku dalam hati.
Kawan-kawan tahu. Aku tulis ini sambil nangis. Sedih kalau ingat masa itu. Sedih belum bisa kasih apapun sama mamak waktu itu. Sedih takbisa beri kado sebagus kawan-kawan yang lain. Sedih belum bisa jadi anak yang bisa buat mamaknya bahagia dapat kado yang isinya berharga. Sedih, sampai aku terisak-isak setiap kali kuingat. Bahkan jika aku baca tulisanku sendiri.
"Ma, Dila belum bisa kasih hadiah kado yang bagus kayak kawan-kawan Dila yang lainnya. Maaf yaa Ma. Belum bisa kasih hadiah yang Mama pengen. Dila belum ada uang sendiri buat belikkan Mama sesuatu.
Tapi Dila janji, Dila bakal jadi anak hebat untuk Mama nanti. Dila bakal jadi anak yang bisa belikkan Mama kado dengan uang Dila.
Dila bakal jadi anak baik, anak yang bisa bahagiakan Mama Abba nanti. Dila Janji.
Maaf lagi ya Ma, kado dila hari ini cuman ini, nanti Dila ganti dengan yang Dila janjikan. Dila sayaaaaang Mama, Baba," begitu tulisku.
Pada sebuah kertas bertinta pena hitam yang kubungkus rapi dalam kotak dan berbalut kertas kado.
Iyaa kawan-kawan. Itulah isi kadoku.
Kado yang hanya secarik kertas dari anak yang belum bisa beri kado terbaik dihari perpisahan untuk orang tuanya. Kalau ingat itu sakit. orangtua ku cuman bisa dapat kado selembar kertas. Cuman selembar kertas.
Selembar kertas.
Saat sebelum pemberian kado dan bunga, murid disuruh bertebaran buat cari orangtuanya yang duduk terpisah untuk diberikan kado dan bunga.
Saat itu sangat ramai, ratusan murid dan ratusan orangtua murid.
Saat sudah bertebaran, aku tidak lihat beliau. Ibuku sedikit rendah tinggi tubuhnya, dan beliau tertutup dari ramainya orang yang lebih tinggi.
Aku yang mencari-cari sambil menggenggam bunga dan kado yang berisi kertas takunjung jumpa beliau. Hingga akhirnya aku pasrah
"Oh, mama mungkin tak datang, takapalah. Kadonya mungkin tak pantas dikasih, makanya Allah kasih mama tak datang."
Sudah hampir mau duduk diposisi semula dengan situasi sekitar murid dan orangtuanya saling pelukan dan haru. Tiba-tiba aku dengar suara teriak yang tak asing. Aku berdiri lagi, sambil jinjit-jinjit ternyata itu suara teriaknya ibuku "MasyaaAllah"
Seketika pecah tangis (Dasar cengeng). Allah rela ternyata kado selembar kertas sampai ditangan mama. Aku lihat mama yang sudah basah pipinya dan aku yang takbisa tahan tangis juga saat itu.
MasyaaAllah, duhhh. Lillahita'ala, Aku gabisa bilang apa-apalagi kawan-kawan.
Ini benar-benar momen yang paling so sad dari aku prihal orangtua, khususnya ibu yang kusebut mama. Gatau, sampai sekarang jika berbicang tentang orang tua aku selalu gabisa tahan.
Selalu hujan sewaktu-waktu. Selalu rindu setiap waktu, selalu ingin setiap hari ketemu.
Dan aku kalau lagi down, pengen nyerah, capek pengen pulang, aku ingat orangtua dulu, terus pasti keingat kertas dari isi kado perpisahan yang lalu. Seketika tu sedih, nangis sepanjang malam tapi berujung semangat lagi.
Karna orangtua:))
Ini tujuan aku paparin tulisanku sama kawan-kawan yang baca, bukan ingin dianggap apapun (padahal ini aib aku). Ini kisah sebenarnya.
"Semangat diri yang lahir dari motivasi peristiwa".
Sungguh, kawan-kawan. Harta paling berharga di dunia adalah orangtua. Dan harta paling berharga untuk orangtua adalah kita; anaknya.
Jangan sia-siakan. Jangan pernah.
Pernah dengar kan, Ridho Allah terletak pada ridhonya orangtua, dan murka Allah terletak pada murkanya orangtua.
Hati-hati.
Tentang kelanjutan reaksi mama baca isi kertas kado perpisahan dulu itu Aku gatau. Mama pulang lebih cepat setelah foto bersama. Karna si Adik kepanasan. Tapi sampai dirumah, Aku lihat kadoku sudah dibuka.
Dan sayang, aku gaberani lihat mamak waktu pulang, Aku langsung lari ke kamar. Aku ga sanggup.
Semoga Allah mudahkan dan bantu kita para anak untuk segera bisa bahagiakan orangtua. Menjadi kepribadian lebih baik juga jadi bahan bahagia batin orangtua jika kita tahu.
Terus lakukan yang terbaik, sebagaimana beliau masih terus berikan yang terbaik dengan segala kondisinya.
Sayangi, ucapkan terima kasih setiap waktu, ucapkan sayang setiap kali telfon. Tanyakan gimana keadaannya, dengarkan ceritanya, berikan perhatian dengan "Mama/Bapak sudah ini, itu?"
Aku ga ngajarin kawan-kawan. Tapi kurasa semua anak tahu, orangtua bahagia jika kita lakukan hal demikian.
Setidaknya, itu saja yang diberikan dulu sebelum benar-benar bisa memberi lebih.
Bisa kan? yok bisa
Sweet ke orang tua dulu, baru yang lain:)
MasyaaAllah, tabarakallah.
"Allahummagfirlii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Robbayanii Shogiraa"
Aamiin
Komentar
Posting Komentar